Jumat, 07 Desember 2012

AKU INGIN MENJADI PETANI



                Di era yang serba mengedepankan informasi dan teknologi  dan perkembanganyan sagat begitu pesat jarang kita dengar keinginan atau cita – cita anak muda untuk menjadi petani. Pekerjaan petani penulis maksudkan adalah petani penanam padi, sebab pekerjaan petani anggapan  orang umum  identik dangan penanam padi, padahal pekerjaan petani bukan hanya menanam padi saja melainkan banyak lagi jenis tanaman lainya. Kebanyakan orang dan tidak bisa dipungkiri termasuk juga penulis dan bahkan sebagian mahasiswa yang lulusan dari bidang pertanian pun lebih memilih pekerjaan atau profesi sebagai pengusaha, pejabat, karyawan suatu perusahaan, pegawai negeri sipil dan sebagainya di bandingkan jadi seorang petani . Salah satu alasan atau stigma sederhana mengapa keinginan tersebut jarang kita dengar yaitu mungkin  karena pekerjaan sebagai petani dianggap orang Desa,orang masyarakat dari kalangan bawah, dan masa depannya tidak terjamin. Padahal telah kita ketahui seberapa modernpun dan semaju apapun industri kita saat ini akan tetapi  negara kita merupakan negara agraris dan mayoritas penduduknya mengkonsumsi bahan pokok dari padi atau beras. Oleh karena itu pekerjaan sebagai petani merupakan pekerjaan yang penting untuk kemandirian bangsa dan petani tersebut juga boleh di beri julukan pahlwan pangan bangsa. Masih kah kita menggatakan petani itu orang desa atau orang bawah?.
                Dengan peran dan andil petani dalam kemajuan dan kemandirian bangsa sangat besar, pertanyaan yang muncul untuk hal tersbut adalah apakah petani kita sekarang ini telah dilindungi dan sudah sejauh mana upaya  pemerintah selaku pemengang otoritas kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat dalam hal memberikan bantuan baik materil maupun non materil? Banyak permaslahan dan kendala yang petani hadapi sekarang ini. Dari segi areal ,  lahan yang mereka garap sekarang berkurang karena kebijakan pemberian izin penaman sawit, areal persawahan berubah menjadi  areal perkantoran, perumahan , industri dan sebagainya.  Dari segi bibit, bibit yang mereka gunakan masih belum unggul dan bibit unggul yang tersedia masih mahal. Dari segi pola tanam, pola waktu tanam khususnya di Kalimantan Barat masih mengunakan cara tradisonal dan waktu tanam padi setahun sekali. Dari segi kebutuhan atau perlengkapan atau alat tanaman padi, pupuk yang digunakan minim karena harga pupuk mahal dan bahkan kadang – kadang langka. Untuk perlengkapan pertanian atau alat pertanian masih mengunakan alat tradisonal seperti cangkul, parang dan laianya. Untuk pengunaan mesin traktor dan mesin pelepas buah padi dari tangkainya masih sangat jarang ditemukan. Dari segi pemasaran dan harga hasil produk pertanian berupa padi atau beras, petani masih binggung khususya dalam hal harga jual padi atau beras yang masih rendah.
                Dari sedemikian komplek permaslahan petani dan pemerintah sudah tahu dengan hal tersebut. Maka sudah selayaknya pemerintah memberikan perhatian khusus kepada bapak – bapak dan ibu – ibu pahlwan pangan,  minimal mensejahterakan mereka- mereka dan bangsa ini dari hasil panen tersebut dengan memberikan bimbingan teknis berupa penyuluhan pertanian, memberikan subsidi terhadap bibit unggul dan pupuk, dan memlindungi pemasaran dan harga jual petani.
                Sekarang terlepas siapapun yang ingin atau tidak  ingin menjadi petani, yang jelas saatnya kita   bersama – sama bahu membahu agar kemandirian pangan berpihak di negara kita. Semua elemen masyarakat bisa membantu petani tentunya sesui dengan kapasitas dan fugsinya maing- masing. Pemerintah dengan kebijakan yang pro petani dan sebagai masyarakat yang tidak bergelut lansung di bidang pertanian dengan cara membeli hasil produk pertanian lokal kita.  Saatnya dari petani kita untuk kita agar Indonesia Jaya.
Oleh      : Dedi
Mahasiswa  Fisipol Untan dari Kab. Sambas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar